Posted by : Dawns Minggu, 24 April 2016

KERINDUAN


Argh! Lagi-lagi perasaan itu! Kenapa ia harus datang sekarang? Kenapa tidak nanti saja? Tidak tahukah ia bahwa aku sedang sibuk dengan tugasku sekarang? Kenapa ia malah datang dan menggangguku? Dasar tidak sopan!

Kucoba untuk mengabaikannya, men-delete semua berkas-berkas itu, namun, ukuran semua file itu sangat besar, sehingga perlu tenaga yang besar pula untuk menghapusnya. Aku deadlock ditengah perjalanan, not responding. Akhirnya aku menyadari bahwa aku tidak bisa menghapusnya, bahkan sekedar menepisnya untuk sekejap saja tidak bisa. Justru, sebuah film lama yang beberapa bagiannya sudah rusak tiba-tiba terputar di otakku. Menampakkan kenangan masa lalu di layar transparan di depan mataku. Semua itu, begitu manis, juga begitu singkat. 

Nyeri. Hatiku terasa nyeri. Bulir-bulir air mataku bahkan sudah melakukan pemanasan untuk segera siap meluncur. Andai saja aku bisa memutar kembali waktu, andai saja aku cukup tahu waktu itu, andai... ah! Aku meracau lagi. 

Kukembalikan konsentrasiku pada layar laptop di depanku. Tinggal sedikit lagi, cerpen ini akan selesai. Ya, tugasku. Kutarik napas dalam-dalam sebelum aku mengetik. Rasanya sesak. Air mataku pun meleleh seiring hembusan napas panjangku.

Diam. Aku diam. Tidak jadi mengetik. Blank. Semua kata yang sudah kurancang di pikiranku untuk melanjutkan tugasku, menghilang entah kemana. Tubuhku seolah hanya mengizinkanku untuk menangis. Dan ya! Aku melakukannya.
Payah! Untuk apa menangisi orang yang tak pernah ada untukmu? Dia bahkan mungkin tak merindukanmu, juga tak mengingatmu, atau yang lebih buruk, telah melupakanmu sejak ia meninggalkanmu. Aku tersenyum masam mendengar pernyataan dari logikaku. Dan aku tahu dia ada benarnya. Ingin rasanya melampiaskan seluruh emosi negatif yang bercokol di hati dan pikiranku. Ingin rasanya memaki-maki dirinya yang sudah begitu tega meninggalkanku tanpa sepatah kata pun. Namun, bukanlah cacian ataupun makian yang telontar dari mulutku, melainkan suara lirih dan bergetar yang berkata, "Dimana?" Seolah dia ada di depanku dan mendengarkanku sekarang.
"Pulang" pintaku dengan suara yang sama, berharap ia benar-benar ada di depanku dan mendengarku. "Aku merindukanmu." kalimat terakhir sebelum aku hanya bisa menangis dalam diam. Meluapkan kerinduan padanya hingga aku terlelap.




Assalamu'alaikum :)

Well, sebelumnya aku cuma mau kasih tau kalo ini cerpen pertama yang aku post disini hehe *gak penting? Hmm... Sudah kuduga xD Ya sudahlah, maaf apabila ada ke-typo-an dalam cerita di atas, i really need kritik dan saran yang membangun, so please spread the words for me. Terimakasih sudah berkunjung :)

Wassalamu'alaikum :)

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Pencil and Paper - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -