Archive for 2016

Cerpen "Permohonan Sang Anak Jalanan"

"Permohonan Sang Anak Jalanan"

    "Selamat ulang tahun!" tiga kata yang terucap dari diriku sendiri, juga untukku sendiri. Memangnya siapa yang mau mengucapkannya selain aku? Tidak ada. Ya, tidak ada. Iri rasanya melihat anak sebayaku tertawa, bahagia di hari yang istimewa, dikelilingi oleh orang terkasih yang dinamakan keluarga. Pelukan hangat dari mama-papa, rentetan ucapan selamat dan do'a dari sanak saudara, juga kue dengan lilin menyala diatasnya. Ah... ingin rasanya memiliki itu semua.
  Sering aku berandai-andai, betapa bahagianya bila semua hal itu terjadi padaku. Tapi, apakah itu mungkin? Kedua orang tuaku pergi meninggalkanku sendiri di gubuk kumuh milik kami saat aku masih berusia lima tahun. Ayahku yang jarang pulang, tak pernah kembali. Ia pergi begitu saja jauh sebelum ibu pergi. Ibuku bilang ingin bekerja dan berjanji akan kembali, tapi tiga tahun aku menanti seorang diri, tak ada tanda-tanda atau apapun yang mampu memastikan bahwa ia akan kembali. Aku juga tak punya saudara, Ibu dan Ayah tak pernah mengenalkan keluarga besar mereka barang seorangpun. Teman-teman? Aku tak pernah memiliki teman karena... entahlah. Banyak sekali alasan yang mereka katakan saat aku bertanya kenapa mereka tak mau berteman denganku; karena aku bau, karena aku tak punya orang tua, karena aku tidak sekolah, karena aku mengais makanan di tumpukan sampah, karena aku pembawa sial, dan masih banyak lagi. Jangan tanya bagaimana perasaanku karena aku sendiri juga tidak tahu. Terkadang aku tak mempedulikannya, namun tak jarang aku menangis juga. Seperti sekarang ini, memikirkan hal itu membuatku sedih. Tapi, segera kuhapus air mataku sebelum sempat menetes. Laki-laki tidak boleh menangis, itu yang pernah dikatakan Ayah.
    Puas memandangi anak laki-laki yang tengah bahagia di hari istimewanya dari jendela kaca besar milik rumah makan cepat saji yang terkenal itu, aku lalu melanjutkan perjalananku. Mencari ibuku di tempat kerjanya dulu. Walaupun mungkin hasilnya akan sama seperti hari-hari sebelumnya, namun aku tak menyerah. Aku tetap menunggunya disana dan berharap dia datang. Walaupun seringkai aku diusir oleh orang berbadan besar dan berpakaian serba hitam karena tertidur di teras milik kelab malam itu. Ia malah semakin mengusirku, bahkan tak segan menendangku jika aku bertanya 'apakah ibuku sudah datang?'. Jika sudah begitu, yang bisa kulakukan hanyalah pasrah dan pulang ke rumah. Aku tidak tahu dimana lagi harus mencari ibuku.
   Tapi, jika Tuhan mengizinkan, aku ingin memohon pada-Nya untuk mengabulkan pintaku. Bukan, bukan serentetan ucapan selamat ulang tahun dari teman-teman, bukan kado mainan mahal yang hanya bisa kulihat dari jendela toko, bukan juga kue dengan lilin diatasnya. Tapi, malam ini, di hari ulang tahunku, saat aku sampai di rumah, aku igin bertemu dengan Ayah dan Ibuku disana, menyambutku dengan pelukan hangat mereka. Itu saja.

P.s: Jangan lupa kripik *eh* kritik dan sarannya yaaaa, pleaseee, i need that so freaking much!!! BTW, thanks for reading my story, K!!! See ya! :)

"Hargailah karya orang lain sebagaimana karyamu ingin dihargai."

Cerpen "Kerinduan"

KERINDUAN


Argh! Lagi-lagi perasaan itu! Kenapa ia harus datang sekarang? Kenapa tidak nanti saja? Tidak tahukah ia bahwa aku sedang sibuk dengan tugasku sekarang? Kenapa ia malah datang dan menggangguku? Dasar tidak sopan!

Kucoba untuk mengabaikannya, men-delete semua berkas-berkas itu, namun, ukuran semua file itu sangat besar, sehingga perlu tenaga yang besar pula untuk menghapusnya. Aku deadlock ditengah perjalanan, not responding. Akhirnya aku menyadari bahwa aku tidak bisa menghapusnya, bahkan sekedar menepisnya untuk sekejap saja tidak bisa. Justru, sebuah film lama yang beberapa bagiannya sudah rusak tiba-tiba terputar di otakku. Menampakkan kenangan masa lalu di layar transparan di depan mataku. Semua itu, begitu manis, juga begitu singkat. 

Nyeri. Hatiku terasa nyeri. Bulir-bulir air mataku bahkan sudah melakukan pemanasan untuk segera siap meluncur. Andai saja aku bisa memutar kembali waktu, andai saja aku cukup tahu waktu itu, andai... ah! Aku meracau lagi. 

Kukembalikan konsentrasiku pada layar laptop di depanku. Tinggal sedikit lagi, cerpen ini akan selesai. Ya, tugasku. Kutarik napas dalam-dalam sebelum aku mengetik. Rasanya sesak. Air mataku pun meleleh seiring hembusan napas panjangku.

Diam. Aku diam. Tidak jadi mengetik. Blank. Semua kata yang sudah kurancang di pikiranku untuk melanjutkan tugasku, menghilang entah kemana. Tubuhku seolah hanya mengizinkanku untuk menangis. Dan ya! Aku melakukannya.
Payah! Untuk apa menangisi orang yang tak pernah ada untukmu? Dia bahkan mungkin tak merindukanmu, juga tak mengingatmu, atau yang lebih buruk, telah melupakanmu sejak ia meninggalkanmu. Aku tersenyum masam mendengar pernyataan dari logikaku. Dan aku tahu dia ada benarnya. Ingin rasanya melampiaskan seluruh emosi negatif yang bercokol di hati dan pikiranku. Ingin rasanya memaki-maki dirinya yang sudah begitu tega meninggalkanku tanpa sepatah kata pun. Namun, bukanlah cacian ataupun makian yang telontar dari mulutku, melainkan suara lirih dan bergetar yang berkata, "Dimana?" Seolah dia ada di depanku dan mendengarkanku sekarang.
"Pulang" pintaku dengan suara yang sama, berharap ia benar-benar ada di depanku dan mendengarku. "Aku merindukanmu." kalimat terakhir sebelum aku hanya bisa menangis dalam diam. Meluapkan kerinduan padanya hingga aku terlelap.




Assalamu'alaikum :)

Well, sebelumnya aku cuma mau kasih tau kalo ini cerpen pertama yang aku post disini hehe *gak penting? Hmm... Sudah kuduga xD Ya sudahlah, maaf apabila ada ke-typo-an dalam cerita di atas, i really need kritik dan saran yang membangun, so please spread the words for me. Terimakasih sudah berkunjung :)

Wassalamu'alaikum :)

- Copyright © Pencil and Paper - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -